Beberapa terminology yang perlu dipahami:
Klimakterik - Periode peralihan dari fase reproduksi ke fase usia tua / senium. Terjadi akibat penurunan fungsi generative atau endokrinologik dari ovarium.
Menopause - Perdarahan haid yang terakhir
Pascamenopause - Masa bila telah mengalami menopause 12 bulan sampaimencapai senium (usia tua)
Senium - Pascamenopause lanjut, >65 tahun
Klimakterium Prekok - Bila ovarium tak berfungsi lagi di usia < 40 tahun

FASE KLIMAKTERIK
1.       Pramenopause
î  Dimulainya fase klimakterik
î  Ditandai dengan :
- Siklus haid tak teratur
- Perdarahan memanjang
- Jumlah haid relative banyak
- Terkadang disertai nyeri haid
- Kadar estrogen dan progesterone meningkat
- Fase luteal stabil, fase folikular memendek

2.       Perimenopause
î  Fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause
î  Ditandai dengan :
- Siklus haid iregiular
- Pada 40% wanita merupakan haid anovulatorik
- Kadar progesterone tetap rendah meskipun terjadi ovulasi
- Kadar FSH, LH, estrogen bervariasi
- Telah mengalami berbagai jenis keluhan klimakterik

3.       Menopause
î  Jumlah folikel atresia meningkat à tak tersedia folikel yang cukup lagi
î  Produksi estrogen berkurang
î  FSH meningkat (>40 mIU/ml), kadar estradiol bervariasi (cenderung turun, <30 pg/ml)

4.       Pascamenopause
î  Ovarium sudah tek berfungsi sama sekali
î  Kadar estradiol 20-3- pg/ml, kadar hormone gonadotropin meningkat akibat produksi inhibin yang berkurang akibat tak tersedia folikel yang cukup
î  Pada usia reproduksi, folikel memproduksi inhibin yang akan menekan sekresi GnRH
î  Kadar estradiol menurun à mengakibatkan endometrium menjadi atropik  sehingga tidak akan muncul haid lagi
î  Tetapi ovarium masih dapat memproduksi steroid sex à dari sel-sel hilus dan kortex ovarium


GEJALA MENOPAUSE
1.       Keluhan vasomotorik
î  Ialah perasaan panas yang muncul tiba-tiba disertai keringat yang banyak
î  Dari dada akan menjalar ke leher-kepala, kulit terlihat kemerahan
î  Meski terasa panas, suhu tetap normal
î  Diikuti sakit kepala, perasaan kurang nyaman, peningkatan frekuensi nadi à akibat sekresi h. adrenalin dan neurotensin
î  Penurunan sekresi h. noradrenalin à mengakibatkan vasodilatasi BV kulit, peningkatan suhu kulit, timbul rasa panas

2.       Keluhan somatic
î  Estrogen memicu sekresi beta endorphin dari SSP
î  << estrogen à sekresi beta endorphin << à ambang sakit << à sering mengeluh sakit pinggang, nyeri kemaluan, tulang, otot

3.       Keluhan psikis
î  Penurunan steroid sex à perubahan psikis berat (mudah tersinggung, cepat marah, merasa tertekan) dan perubahan fungsi kognitif
î  << estrogen à memacu aktivitas MAO à serotonin dan noradrenalin menjadi tak aktif à depresi (ialah penurunan kadar serotonin & noradrenalin)

4.       Gangguan tidur
<< estrogen à sulit tidur

5.       Seks dan Libido
<< estrogen à aliran darah ke vagina <<, cairan vagina <<, sel epitel vagina menjadi tipis & mudah cedera à penurunan minat berhubungan seksual

6.       Gangguan psikiatrik dan neurologic (depresi reaktif, fobia, skizofrenia)
Akibat  fluktuasi estradiol dan penurunan progesterone

7.       Demensia - << estrogen à menurunkan kadar asetilkolin otak à menurunkan stabilitas ingatan

8.       Urogenital - Iritasi, rasa panas, gatal, keputihan, nyeri, cairan vagina <<, dinding vagina <<
Saluran kemih : sering berkemih, tak dapat menahan kencing, nyeri berkemih, sering kencing malam (akibat atrofi mukosa uretra)

9.       Uterus - Panjang kavum uteri <<, involusi miometrium, endometrium atropi, ketebalannya < 5 mm, dinding BV menjadi tipis dan mudah rapuh à terkadang menimbulkan perdarahan

10.   Serviks - Involusi, berkerut, epitel tipis dan mudah cedera, kelenjar endoserviks atrofi dan lender berkurang

11.   Vulva - Involusi vulva, atrofi, hilangnya turgor dan elastisitas, rambut pubis <<, labia mayor dan klitoris mengecil, introitus vagina menjadi sempit dan kering

12.   Vagina - Involusi, kehilangan rugae, epitel vagina atrofi dan mudah cedera, vaskularisasi ke vagina berkurang à lubrikasi <<, atrofi vagina à gejala panas, gatal, kering

13.   Kulit - Estrogen << à kulit menjadi tak elastic, atropik, tipis, kering, berlipat, produksi sebum dan kelenjar <<, pertumbuhan rambut <<

14.   Rambut - Uban à akibat penurunan aktivitas melanosit dalam matrix folikel rambut akibat penurunan sintesis enzim tirosinase (estrogen meningkatkan aktivitas enzim tirosinase)

15.   Mulut, hidung, telinga
î  Selaput lender berkerut, aliran darah <<, terasa kering, mudah gingivitis
î  Gigi mudah rontok, meningkatkan resorpsi tulang dagu

16.   Mata - Atrofi kornea dan konjungtiva, turunnya fungsi kelenjar air mata

17.   Suara - Sangat sensitive terhadap perubahan kadar estrogen

18.   Otot dan sendi - << estrogen à kerusakan matrix kolagen dan tulang rawan

19.   Payudara - Involusi payudara, atrofi, pelebaran saluran air susu, fibrotic, payudara terasa sakit




Meskipun kadar testosterone dalam darah menurun, keluhan sindrom klimakterik seperti pada wanita tidak segera muncul. Keluhan dapat saja muncul beberapa tahun kemudian.

Proses penuaan pasti terjadi baik perempuan maupun laki-laki, juga pada semua mahluk hidup. Hingga kini belum ditemukan cara untuk mencegah proses penuaan. Penyebab penuaan adalah mulai berkurangnya proses pertumbuhan, pembelahan sel, dan berkurangnya proses metabolisme tubuh. Akibatnya, terjadi gangguan terhadap kulit, selaput lender, tulang, system pembuluh darah, aliran darah, metabolisme vitamin, dan fungsi otak.

Hormone testosterone masih terus diproduksi meskipun sudah mencapai usia lanjut. Namun ada beberapa factor-faktor tertentu yang dapat saja menyebabkan produksi testosterone berhenti. Banyak obat yang mempengaruhi produksi testeosteron. Kelebihan berat badan, puasa yang terlalu lama, narkotika, alcohol, dan stress dapat mengurangi produksi testosterone. Bila factor-faktor tersebut dapat dihindari, testis akan dapat memproduksi hormone lagi. Laki-laki yang sehat memiliki testosterone yang tinggi dibanding laku-laki yang sakit.

Testosterone diproduksi oleh sel Leydig berada di bawah control hipotalamus-hipofisis. Hipotalamus mengeluarkan hormone pelepas gonadotropin. Hormone ini memicu hipofisis untuk mengeluarkan hormone FSH dan LH. LH-lah yang sangat berperan dalam produksi testosterone. Sebanyak 95% testosterone pada laki-laki berasal dari testis, sisanya berasal dari glandula suprarenalis.

Sebagian besar testosterone dalam darah terikat dengan protein, terutama albumin dan globulin. Sedangkan yang aktif hanya testosterone yang bebas. Pada organ-organ tertentu, misalnya prostate dan folikel rambut, testosterone baru dapat memiliki efek biologis setelah terlebih dahulu diubah oleh enzim-enzim tertentu menjadi dehidrotestosteron (DHEA). Di jaringan lemak atau pun otot, testosterone dapat diaromatisasi menjadi estrogen. Jadi pada laki-laki gemuk sudah pasti kadar estrogen dalam darahnya tinggi.

Keluhan yang muncul pada laki-laki tidak hanya semata-mata disebabkan oleh reandahnya kadar testosterone saja, tetapi juga dapat disebabkan oleh rendahnya hormone yang lain, seperti estrogen, hormone pertumbuhan (GH), dan DHEA. Produksi GH menurun dengan makin meningkatnya usia.

Kekurangan testosterone menyebabkan berkurangnya rambut ketiak, rambut kemaluan, kulit menjadi tipis dan kering, tulang menjadi keropos, massa otot berkurang, jumlah lemak tubuh bertambah, testis mengecil, libido menurun, dan berkurangnya kemampuan ereksi. Pembentukan sel-sel darah merah juga dipengaruhi oleh androgen sehingga laki-laki kekurangan androgen menyebabkan sel-sel darahnya berkurang dan terlihat pucat. Susuna saraf juga dipengaruhi androgen. Androgen memperbaiki mental dan psikis menimbulkan perasaan sehat, selalu menenangkan hati dan tidak depresi.

Androgen penting untui libodi dan kemampuan seksual. Dengan meingkatnya usia, terjadi penurunan kadar testosterone sehingga diduga pula bahwa seksualnya juga akan terpengaruh. Pada laki-laki dengan kadar testosterone tinggi terbukti seksualnya meningkat, dibandingkan dengan orang yang kadarnya rendah.

DIAGNOSIS ANDROPAUSE
Keluhan dan perubahan fisik serta rendahnya kadar hormone ketersediaan hayati testosterone dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis andropause. Juga disebabkan oleh menurunnya kadar hormone yang lain seperti hormone pertumbuhan (GH), IGF I, dan DHEA’S. Tumor di hipofisis menyebabkan rendahnya kadar bioavailable testosterone. Kadar protein (SBHG) yang mengikat testosterone juga meningkat jumlahnya karena terjadi peningkatan aromatisasi testosterone menjadi estrogen. Estrogen memicu sintesis SBHG di hati sehingga terjadi peningkatan SBHG dalam darah.
Gejala klinis :
1.    GEJALA VASOMOTORIK, hot fkushes, berkeringat, susah tidur, gelisah, dan takut
2.    GEJALA VIRILITAS, berupa kurang tenaga, berkurangnya massa otot, rambut kelamin berkurang, penumpukan lemak di perut, dan osteoporosis
3.    GEJALA KOGNITIF, mudah lelah, menurunnya aktivitas tubuh, rendahnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental, depresi, hilangnya rasa percaya diri, dan menghargai diri sendiri.
4.    GEJALA SEKSUAL, menurunnya libido, menurunnya aktivitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi, dan berkurangnya volume ejakulasi.

TESTOSTERONE DAN OSTEOPOROSIS
Rendahnya kadar androgen ada hubungannya dengan berkurangnya massa tulang pada laki-laki. Telah ditemukan reseptor androgen pada osteoblas manusia dan telah dapat dibuktikan pada percobaan in vivo, bahwa androgen menghambat aktivitas osteoklas. Pada wanita dan pria, tulang kortikal lebih banyak memiliki reseptor androgen dibandingkan tulang trabekula. Data-data terakhir membuktikan bahwa reseptor androgen tidak hanya di osteoblas, tetapi juga ditemukan di osteosit, sel mononuclear dan sel-sel endothelium sumsum tulang. Efek androgen terhadap tulang, baik pada wanita maupun pria tidak hanya semata-mata karena efek langsung terhadap reseptor androgen, tetapi juga efek tidak langsung terhadap reseptor estrogen melalui proses aromatisasi., pemberian testosterone terjadi peningkatan densitas mineral tulang.

METABOLISME ANDROGEN DI TULANG
Testosteron bekerja secara langsung terhadap reseptor androgen di tulang dan dapat juga bekerja melalui perubahan testosterone menjadi dehidrotestosteron oleh enzim 5-alfa-reduktase. Dehidrotestosteron memiliki ikatan yang lebih kuat terhadap reseptor dibandingkan dengan testosteron. Selain itu, androgen dikonversi menjadi estrogen oleh emzim P-450-reduktase. Di tulang, testosterone merupakan prahormon estrogen sehingga proses aromatisasi terjadi baik di tulang wanita maupun pada tulang pria.

Androgen memiliki efek stimulasi terhadap proliferasi dan diferensiasi osteoblas. Androgen adrenal juga memiliki efek yang sama. Insulin like Growth factor-II (IGF-II) ikut berperan dalam proliferasi osteoblas. Pemberian androgen meningkatkan transforming Growth Factor-beta (TGF-β) di m-RNA, protoonkogen tipe 1 dan alkali fosfatase di osteoblas. Pada pria hipergonadisme, pemberian testosterone meingkatkan densitas mineral tulang, baik tulang trabekular maupun tulang kortikal.

ANDROGEN, FUNGSI KOGNITIF, DAN SUASANA HATI
Steroid seks telah terbukti dapat mencegah atau menurunkan risiko demensia. Namun, masih belum diketahui secara pasti efek testosterone terhadap otak. Telah ditemukan reseptor androgen di bagian tertentu dari otak (hipotalamus daerah limbik). Beberapa penelitian memperlihatkan meningkatnya dorongan seksual dan libido pada laki-laki yang diberi testosterone. Pemberian testosterone juga meningkatkan suasana hati. Kadar testosterone kelihatannya lebih tinggi pada musim semi.
Tidak ada perbedaan scoring intelegensia (IQ) antara wanita dan pria, tetapi beberapa penelitian justru melihat adanya perbedaan ini. Beberapa bukti menemukan tingginya IQ pada laki-laki dengan kadar testosterone normal.

Otak memiliki enzim aromatase yang memungkinkan mengubah testosterone menjadi estrogen. Enzim ini tidak ditemukan di semua bagian otak, tetapi berada terutama struktur subkortikal dibanding korteks serebral.

Testosterone juga mempengaruhi kadar sirkulasi hormone adrenal. Kadar kortisol 10% lebih tinggi pada wanita daripada pria. Kadar kortisol cenderung meningkat pada orang dewasa, bila dibandingkan dengan kadar orang usia muda. Kontrol biasanya secara fisiologik meningkat pada saat stress. Namun efek kortisol kronik dapat memperburuk fungsi kognitif, dimana terjadi atrofi hipokampus yang merupakan bagian yang sangat penting dari otak untuk menyimpan memori dan untuk mengingatnya kembali. Perlu diperhatika bahwa testosterone dapat memiliki pengaruh langsung terhadap aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal atau secara tidak langsung melalui sekresi androgen adrenal.


OBESITAS VISCERAL, ANDROGEN, DAN RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR DAN DIABETES MELITUS
Androgen dikathui memiliki efek yang lain terhadap tubuh yakni mempengaruhi massa otot dan juga mempengaruhi distribusi lemak tubuh.

Massa otot dijumpai berkurang pada pria hipogonad. Pemberian androgen akan meningkatkan massa otot dan menguatkan otot. Deikian juga pada wanita, pemberian testosterone meningkatkan massa otot dan menguatkan otot.

Perbedaan wanita dan pria terhadap morbiditas penyakit kardiovaskular didasarkan atas perbedaan efek testosterone terhadap profil lipid. Kemungkinan meningkatnya penyakit kardiovaskular pada laki-laki berhubungan dengan distribusi lemak. Distribusi lemak terutama di daerah gluteofemoral, sedangkan laki-laki terutama di daerah perut.

Banyaknya lemak di daerha tertentu dari tubuh sangat bergantung pada jumlah dan luasnya sel-sel lemak. Sel-sel lemak di daerah gluteofemoral lebih besar dibandingkan di daerah abdominal. Aktivitas enzim lipoprotein lipase yang bertanggung jawab untuk penumpukan trigliserid dalam sel-sel lemak dijumpai lebih tinggi di gluteofemoral daripada di daerah abdominal. Sebaliknya lipolisis diatur oleh system hormone dan system saraf simpatik. Katekolamin memicu lipolisis melalui reseptor β-adrenergik, sedangkan adrenoreseptor α2 menghambat lipolisis. Testosterone memici reseptor β-adrenergik, sedangkan estrogen-progesteron memicu adrenoreseptor α2. insulin memicu stimulasi penumpukan lemak. Lemak visceral memiliki aktivitas metabolic yang tinggi dari trigliserid sehingga banyak mengandung asam lemak bebas dalam jumlha yang besar. Lemak visceral ini dikeluarkan ke vena portal dan akhirnya masuk ke hati. Asam lemak bebas tersebut merupakan energi penting bagi tubuh.

Penelitian membuktikan bahwa lemak visceral meningkat dengan meiningkatnya usia. Di sati pihak dikatakan adanya korelasi terbalik antara jumlah lemak visceral dan insulin plasma. Di pihak lain ditemukan korelasi terbalik antara lemak visceral dan kadar testosterone serta SBHG. Bertambahnya jumlah lemak abdominal pada laki-laki terjadi pada kadar testosterone yang rendah. Juga ditemukan korelasi antara kadar insulin puasa dan testosterone terhadap perubahan lemak abdominal. Insulin menghambat prodiksi SBHG di hati. Rendahnya kadar SBHG menyebabkan rendahnya kada testosterone total dan meningkatkan kadar testosterone bebas. Telah dibuktikan bahwa tingginya kadar lemak visceral berhubungan dengan rendahnya kadar SBHG dan tingginya kadar 3α-diol glukuronid. Sebaliknya, turunnya berat badan menyebabkan peningkatan kadar testosteronm dan SBHG. Meningkatnya kadar testosterone berhubungan dengan berkurangnya lemak abdominal dan dengan plasma insulin. Meningkatnya lemak abdominal erat kaitannya dengan tingginya kadar insulin dan rendahnya kadar SBHG, serta rendahnya kadar total plasma testosterone dan dengan meningkatnya metabolit testosterone.

Biasanya oada laki-laki tua dijumpai peningkatan kadar SBHG. Ini semua mungkin sekali disebabkan oleh penurunan hormone [ertumbuhan (GH) dan IGF-I. penelitian membuktikan bahwa total testosterone yang rendah berhubungan dengan factor risiko penyakit jantung koroner pada laki-laki. Penelitian prospektif menemukan bahwa laki-laki dengan kadar testosterone dan kadar SBHG rendah mulai terkena resistensi insulin plasma dan kadar leptin. Sitokin inflamatorik yang dikeluarkan dari jaringan lemak menyebabkan lelah dan mengantuk pada laki-laki.

LEPTIN
Semua mengetahui bahwa lemak diperlukan untuk kebutuha energi manusia dan merupakan cadangan energi utama. Bila tubuh memerlukan energi yang banyak, lemak akan mengeluarkan asam lemak bebas. Akan tetapi, dewasa ini ternyata terbukti kalau lemak tidak hanya berfungsi menyeb\diakan energi, tetapi sel-sel lemak juga berfungsi sebagai sel-sel endokrin yang meproduksi dan mensekresi molekul-molekul tertentu dengan fungsi regulatorik. Fungsi endokrinologik sel lemak adalah menghasilkan suatu zat yang disebut leptin. Sel-sel lemak subkutan lebih banyak memproduksi leptin dibandingkan lemak visceral. Fungsi leptin terutama menurunkan pengambilan makanan dan berperan dalam fisiologi reproduksi wanita. Wanita yang kehilangan berat badan secara berlebihan sering mengalami amenorea. Kemungkinan besar leptin berperan terhadap pengeluaran hormone pelepas gonadotropin dan pengeluaran ini  tidak bisa terjadi bila massa lemak berada di bawah nilai kritis seperti pada wanita dengan anoreksia nervosa atau pada wanita yang berolahraga berlebihan seperti atlet.

Kadar leptin lebih tinggi pada wanita daripada laki-laki. Ini membuktikan bahwa lemak gluteofemoral lebih banyak menghasilkan leptin daripada lemak visceral. Estrogen meningkatkan produksi leptin, sedangkan androgen menekan produksi leptin.  Reseptor leptin telah ditemukan di sel Leydig dan menghambat testosterone

TESTOSTERONE DAN PROSTATE
Volume prostate meningkat dengan meningkatnya usia pada laki-laki  normal. Pada laki-laki yang hipogonad yang tidak diberi pengobatan dengan androgen tidak terjadi penambahan volume prostate dan kalaupun suatu saat diberikan androgen, maka penambahan volume prostate tidak berbeda dengan laki-laki sehat yang usianya sama, dan hanya terjadi sedikit pengeluaran urin.
Sel-sel epithelial prostate memproduksi dua protease, yaitu prostate specific antigel (PSA) dan kalikrein glanduler yang merupakan efek stimulasi androgen terhadap kelenjar prostate. Kedua kadar serum PSA yang digunakan untuk memonitoring fungsi sekretorik prostate atau untuk mendeteksi adanya hyperplasia prostate.

Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa androgen akan memicu kangker prostate bagi pasien-pasien yang memang telah ada kanker prostate. Pertanyaan yang rumit dijawab adalah apakah lesi precursor yang telah ada dapat merubah ke manifestasi klinik. Kemungkinan terjadinya stimulasi lesi precursor olah testosterone selalu ada. 



A.     Integumentary System
Senescence terjadi pada usia 40 tahun
1.       Rambut / Bulu
î  Menjadi beruban dan lebih tipis karena melanositnya mati
î  Mitosis perlahan-lahan turun dan tidak terjadi penggantian bulu yang mati.
2.       Kulit
î  Mitosis epidermal menurun
î  Kolagen menurun pada epidermis
î  Kulit menjadi lembaran tipis dan tembus cahaya
î  Kulit menjadi kurang elastis/longgar karena kehilangan serat elastin dan papila dermal menjadi datar
î  Pada kulit yang menua, pembuluh darah lebih sedikit dan lebih banyak rapuh
î  Kulit merah karena pembuluh darah yang rapuh rusak ke jaringan ikat
î  Pada sebagian besar geriatri, terdapat rosacea (kemerahan) di hidung dan pipi, terjadi karena pembuluh darah yang berdilatasi. Selain itu juga sering terjadi memar karena fragilitas pembuluh darah dermal
î  Cedera pada kulit sering terjadi dan parah pada geriatri terutama karena ujung saraf kutaneus menurun. Penyembuhan lambat karena sirkulasi yang rendah dan kekurangan sel imun dan fibroblas
î  APC (Antigen Presenting Cells) menurun 40% sehingga rentan terhadap infeksi berulang
î  Fungsi termoregulasi berkurang karena terjadi atrofi pembuluh darah kutaneus, kelenjar keringat dan kelenjar subkutan. Sehingga mudah mengalami hipotermia pada cuaca dingin dan heatstroke pada cuaca panas.

3.       Photoaging
Perubahan degeneratif pada proporsi paparan radiasi UV selama kehidupan. Radiasi UV terhitung > 90% menyebabkan perubahan integumentum di mana orang mengalami masalah kesehatan atau ketidakcocokan kosmetik, kanker, kulit, yellowing & mottling pada kulit; age-spots di mana menyerupai bintik-bintik besar di punggung tangan dan area lain yang terpapar matahari.

Terjadi penurunan 75% produksi Vitamin D karena melakukan sedikit aktifitas di luar rumah serta terjadinya peningkatan intoleransi laktosa, sehingga umumnya geriatri sering menghindari produksi susu. Hal ini meningkatkan resiko defisiensi kalsium yang dapat menyebabkan Bone Loss.

B.     Skeletal System
î  Osteoblast setelah usia 30 tahun menjadi kurang aktif dibanding osteoklast, ketidak seimbangan ini menyebabkan osteopenia yang berlanjut menyebabkan osteoporosis.
î  Pada wanita setelah usia 40 tahun kehilangan 8% masa tulang sementara pada pria setelah usia 40 tahun kehilangan 3 % masa tulang.
î  Bone loss terjadi pada tulang rahang, menyebabkan ompong
î  Densitas tulang menurun
î  Sintesis protein kurang
î  Tulang mudah fraktur dan penyembuhan lambat
î  Jika terjadi fraktur maka imobilitas tulang berlangsung lama sehingga mudah terserang pneumonia dan penyakit infeksi lainnya
î  Nyeri pada sendi sinovial karena cairan sinovial sedikit dan kartilago artikular menipis atau tidak ada
î  Gesekan antar permukaan tulang menyebabkan friction, nyeri, dan penurunan mobilitas osteoarthritis
î  Kalsifikasi sternocostal joints menyebabkan susah bernafas karena gangguan pengembangan dada
î  Degenerasi discus interverteblaris menyebabkan nyeri dan stiffness.

C.     Muscular System
î  Sebagian otot berubah menjadi lemak
î  Pada usia 20 tahunan, terjadi penurunan kekuatan dan masa otot
î  Pada usia 80 tahun, kebanyakan orang hanya memiliki 1/2 kekuatan otot dan daya tahan
î  Pada usia 75 tahun, banyak lansia yang tidak bisa mengangkat beban seberat 4,5 kg dengan lengan
î  Kehilangan kekuatan karena:
1.    Serat otot yang menua (aged muscle fibers)  memiliki lebih sedikit miofibril sehingga menjadi lebih kecil dan lemah
2.    Peningkatan disorganisasi sarkomer
3.    Mitokondria otot lebih kecil dan penurunan kuantitas enzim oksidatif
4.    ATP, kreatinin fosfat, glikogen dan myoglobin berkurang sehingga cepat mengalami fatigue (kelelahan)
5.    Otot  lebih banyak lemak dan fibrosis sehingga mengalami keterbatasan gerak dan sirkulasi darah
6.    Kurangnya motor neuron di medula spinalis dan penyusutan beberapa otot
7.    Neuron yang tersisa menghasilkan sedikit asetil-kolin dan menunjukkan sedikit fungsi transmisi sinaptik sehingga melambatnya respon otot terhadap stimulus
8.    Motor unit memiliki lebih sedikit serat otot/motor neuron dan banyak motor unit yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas
9.    Penurunan fungsi saraf simpatik sehingga aliran darah ke otot tidak berespon baik dan otot cepat mengalami fatigue.

D.    Nervous System
î  Perlambatan perkembangan terjadi pada usia 30 tahun
î  Rata-rata berat otak berkurang 56 % pada 75 tahun dibanding pada 30 tahun
î  Girus serebral menyempit
î  Sulcus semakin luas
î  Korteks menipis
î  Lebih banyak ruangan antara meninges dan otak
î  Neuron cortical yang bersisa memiliki lebih sedikit sinaps
î  Transmisi sinaps menurun
î  Produksi neurotransmitter menurun
î  Reseptor lebih sedikit
î  Neuroglia disekitar sinaps rapuh dan memungkinkan neurotransmiter berdifusi pergi
î  Degenerasi selubung myelin menyebabkan penurunan konduksi sinyal
î  Neuron menunjukkan lebih sedikit RER dan kompleks golgi, hal ini mengarah pada metabolisme yang mengalami penurunan
î  Pada old neuron, terjadi penumpukan lipofuscin dan menunjukkan lebih banyak neurofibrillary tangles
î  Efek penuaan di CNS tidak merata
î  Koordinasi motorik, fungsi intelektual dan short-term memory berkurang lebih banyak daripada long-term memory dan languange skill
î  Sistem saraf simpatik kehilangan reseptor adrenergic dan menjadi kurang sensitif terhadap norepinefrin sehingga terjadi penurunan kontrol homeostasis terhadap beberapa variabel seperti temperatur tubuh dan tekanan darah
î  Sering terjadi hipotensi ortostatik pada lansia.

E.      Sense Organ
Beberapa fungsi sensoris berkurang cepat setelah adolescence
1.       Visual
î  Terjadi presbyopia (kehilangan fleksibilitas di lensa) → kesulitan mata untuk fokus pada objek dekat
î  Ketajaman visual berkurang dan sering membutuhkan lensa koreksi
î  Sering terjadi katarak
î  Penglihatan malam terganggu, retina butuh lebih banyak cahaya untuk dapat distimulasi
î  Hal ini memiliki banyak alasan:
a)  Lebih sedikit sel resptor di retina
b) Vitrous body lebih transparan
c)  Pupil lebih sempit
d) Atrofi dilator pupil
e) Adaptasi malam lama karena reaksi enzimatik
f)   Perubahan struktur dari iris, ciliary body atau lensa → dapat memblok reabsorbsi dari aqueous humor → peningkatan resiko glaukoma.

2.       Auditory
î  Berkurang pada adolescence
î  Membran timpani dan sendi antara ossicle auditory menjadi kaku sehingga vibrasi yang dikirm ke inner ear kurang → menghasilkan derajat ‘ conductive deafness’
î  Nerve deafness terjadi karena jumlah sel rambut koklear dan auditory nerve fibers berkurang
î  Kematian sel reseptor di ductus semisirkuler, utricle dan sacule dan nerve di vestibuler nerve dan neuron di cerebellum → kurangnya keseimbangan dan dizziness.
3.       Taste dan smell
î  Penurunan jumlah taste buds, olfactory cells dan second-order neurons di bulbus olfaktorius
î  Malnutrisi karena hal di atas.

F.      Endocrine System
î  Degenerasi kurang dari sistem organ lain
î  Sensitivitas sel target menurun → beberapa hormon memiliki efek yang berkurang
î  Contohnya: kelenjar pituitary kurang senstif terhadap inhibisi negatif feedback oleh adrenal glukokortikoid sehingga respon terhadap stress lebih lama daripada biasanya.

G.    Circulatory System
î  Penuaan memiliki efek multiple pada darah, jantung, arteri dan vena.
î  Anemia terjadi karena nutrisi defisiensi, kegiatan yang inadekuat, penyakit dan penyebab lainnya.
î  Tidak ada perubahan pada standard rata-rata eritropoietin pada manula
î  Konsentrasi Hb, hitung sel darah, dan variable lain  tidak berbeda dengan manusia usia 30 tahunan
î  Geriatri tidak beradaptasi baik terhadap stress pada sistem hemopoietic mungkin karena penuaan pada sistem organ
î  Atrofi mukosa gastrik → contohnya:  penurunan absorpsi vitamin B12 → peningkatan resiko pernicious anemia
î  Penurunan jumlah nefron → penurunan sekresi eritropoietin sehingga menyebabkan anemia, penyakit jantung, dll
î  Keterbatasan stem sel untuk membentuk sel darah merah baru
î  Anemia menyebabkan terbatasnya oksigen yang bisa dikirim ke jaringan sehingga dapat menyebabkan atrofi
î  Sehingga sel miokardial mati, terjadi angina pectoris dan infark miokard lebih mudah terjadi.
î  Jantung kurang elastis sehingga menyebabkan penurunan kekuatan dari sistolik jantung
î  Dinding cardiac menipis dan lebih lemah dan terjadi penurunan stroke volume, cardiac output dan cardiac reserve
î  Perubahan degeneratif pada nodus dan jalur konduksi → memicu insiden tingginya aritmia jantung dan heart block
î  Arteri kaku oleh arterosklerosis sehingga tidak dapat meregang dengan efektif untuk mengakomodasi gelombang tekanan dari cardiac
î  Tekanan darah naik perlahan seiring waktu
î  Aterosklerosis juga membuat arteri lebih sempit dan menurunkan perfusi sebagian besar organ
î  Kombinasi antara arterosklerosis dengan hipertesi menyebabkan arteri lemah dan meningkatkan resiko aneurism dan stroke
î  Plak arterosklerosis memicu trombosis khususnya di ekstremitas bawah, dimana aliran darah relative rendah dan blood clots mudah terjadi
î  Perubahan degeneratif pda vena lebih banyak terlihat pada ekstermitas
î  Valve menjadi lemah dan kurang mampu untuk menahan aliran darah balik. darah terkumpul di leg dan kaki sehingga meningkatkan tekanan darah kapiler dan menyebabkan edema
î  Peregangan kronik pada pembuluh darah menyebabkan varikosis vena dan hemorrhoid.

H.     Respiratory System
  • î  Penurunan FEV1 dan FVC
  • î  Meningkatnya volume residual
  • î  Berkurangnya efektivitas batuk
  • î  Berkurangnya efektivitas fungsi silia
  • î  Ventilation-perfusion mismatching’ yang menyebabkan PaO2 menurun seiring bertambahnya usia
  • î  Peningkatan diameter trakea dan saluran napas utama
  • î  Membesarnya duktus alveolaris akibat berkurangnya elastisitas struktur penyangga parenkim paru, menyebabkan berkurangnya area permukaan
  • î  Penurunan massa jaringan paru
  • î  Ekspansi thoraks
  • î  Penurunan tekanan maksimum inspirasi dan ekspirasi
  • î  Berkurangnya kekuatan otot-otot pernapasan
  • î  Kekakuan dinding dada
  • î  Berkurangnya difusi CO
  • î  Berkurangnya respons ventilasi akibat hiperkapnea
  •  

I.        Urogenital Function
  • î  Perpanjangan waktu refrakter ereksi pada pria
  • î  Berkurangnya intensitas orgasme pada pria maupun pada wanita
  • î  Pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna dan peningkatan volume residual urine
  • î  Berkurangnya sekresi prostat di urine
  • î  Berkurangnya konsentrasi factor antiadheren protein Tamm-Horsfall


J.        Gastrointestinal
  • î  Berkurangnya ukuran dan aliran darah hati
  • î  Terganggunya klirens obat leh hati sehingga membutuhkan metabolism fase I yang lebih ekstensif
  • î  Terganggunya rspons terhadap cedera pada mukosa lambung
  • î  Berkurangnya massa pankrean dan cadangan enzimatik
  • î  Berkurangnya kontraksi kolon yang efektif
  • î  Berkurangnya absorpsi kalsium


K.      Immune System
  • î  Berkurangnya imunitas yag dimediasi sel
  • î  Rendahnya afinitas produksi antibody
  • î  Meningkatnya autoantibody
  • î  Banyaknya nonresponder terhadap vaksinasi
  • î  Berkurangnya hipersensitifitas tipe lambat
  • î  Terganggunya fungsi makrofag
  • î  Atrofi timus dan hilangnya hormone timus
  • î  Meningkatnya IL-6 dalam sirkulasi
  • î  Berkurangnya produksi sel B oleh sumsum tulang